KEGIATAN PRAKTIK PENGENALAN PERTANIAN JURUSAN ILMU TANAH ANGKATAN TAHUN 2018

Praktik Pengenalan Pertanian- Kegiatan P3 (Praktik Pengenalan Pertanian) jurusan ilmu tanah dilakukan pada tanggal 21 hingga 24 januari 2019. Secara umum kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa dapat mengenal lebih dekat berbagai kegiatan pertanian di masyarakat. Tujuan kusus kegiatan P3 yaitu (1) mengenalkan kepada mahasiswa terkait dengan proses pembentukan berbagai jenis tanah, (2) mengenalkan kepada mahasiswa terkait manajemen sistem pertanian di lahan sawah dan lahan kering, serta (3) mengenalkan mahasiswa terkait industri pertanian.

Kegiatan P3 ini diikuti oleh mahasiswa semester II Fakultas Pertanian Universitas Lampung beserta dosen Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas lampung

Wakil Dekan III Fakultas Pertanian UNILA (Dr. Ir. Kuswanta Futas Hidayat, M.P.) meresmikan kegiatan P3

Acara P3 dilakukan dua sesi, sesi I dilakukan pada tanggal 21 Januari 2019 di gedung Fakultas Pertanian Universitas Lampung dan sesi II dilakukan pada tanggal 22 – 24 Januari 2019 di luar kampus Fakultas Pertanian Universitas Lampung (irigasi Trimurjo, Basalt Sukadana, Tanjung sari, lahan sawah Pringsewu, lahan pertanian Gisting, Muara Indah pantai Kota agung, dan PTPN VII Bekri). Kegiatan ini diresmikan oleh Wakil Dekan III yaitu Dr. Ir. Kuswanta Futas Hidayat, M.P.

 

 

Kegiatan P3 dihadiri oleh Ketua Jurusan Ilmu Tanah (Prof. Dr. Ir. Ainin Niswati, M.S), Ir. Didin Wiharso, M.S., dan Nur Afni Afrianti, S.P., M.Si. Prof. Dr. Ir. Ainin Niswati M.S. memberikan sambutan dan penjelasan terkait kegiatan P3 kepada mahasiswa jurusan Ilmu Tanah angkatan 2018. Selanjutnya, Ir. Didin Wiharso, M.S selaku perwakilan dosen ilmu tanah Fakultas Pertanian Universitas Lampung menyampaikan materi kegiatan yang akan dilakukan oleh mahasiswa. Kemudian, secara teknis kegiatan P3 dijelaskan oleh Nur Afni Afrianti, S.P., M.Si. (Seketaris Jurusan Ilmu Tanah).

Prof. Dr. Ir. Ainin Niswati M.S. memberikan sambutan dan penjelasan terkait kegiatan P3

Ir. Didin Wiharso, M.S menyampaikan materi P3

Nur Afni Afrianti, S.P., M.Si. (Seketaris Jurusan Ilmu Tanah) menyampaikan teknis kegiatan P3

Kegiatan P3 pada Sesi II dilakukan pada tanggal 22 – 24 Januari 2019. Mahasiswa yang mengikuti kegiatan P3 berkumpul di belakang Gedung Dekanat untuk dilakukan pemberangkatan diberbagai lokasi. Lokasi pemberhentian pertama bertempat di Irigasi Trimurjo. Dr. Ir. Afandi, M.P menyampaikan materi tentang keadaan irigasi di Trimurjo. Dr. Ir. Afandi, M.P menjelaskan, bahwa pengukuran debit air dapat menggunakan alat yang bernama “Veskal”. Selanjutnya beliau memaparkan, bahwa papan irigasi yang berada ditepi irigasi menunjukkan jumlah kebutuhan air yang diperlukan untuk mengairi sawah. Bangunan yang dibuat untuk mengukur debit air menggunakan sistem horifais. Irigasi dibedakan berdasarkan ukuran  dibagi menjadi 3, yaitu irigasi primer (ukuran paling besar), irigasi sekunder (ukuran lebih kecil dari irigasi primer dan lebih besar dari irigasi tersier) dan irigasi tersier (ukuran lebih kecil dari irigasi sekunder). Irigasi tersier merupakan irigasi yang secara langsung mengalir ke lahan sawah.

Dr. Ir. Afandi, M.P menyampaikan materi tentang keadaan irigasi di Trimurjo

Setelah mengunjungi daerah irigasi Trimurjo, kemudian dilanjutkan menuju pemberhentian lokasi kedua di Basalt Sukadana. Pada lokasi basalt Sukadana, Dr. Ir. Afandi, M.P dan Ir. Didin Wiharso, M.S menyampaikan materi berkaitan dengan keadaan batuan basalt di Sukadana. Batuan warna coklat-hitam disebut dengan batuan basalt. Batuan tersebut memiliki ciri khas yaitu pada bagian atas terdapat lubang, hal ini disebabkan karena adanya gas yang terjebak atau disebut dengan basalt scoria. Beliau menambahkan bahwa tanah yang berada disekitar basalt Sukadana adalah jenis tanah latosol yang berwarna merah kecoklatan dan terdapat sisa-sisa pelapukan. Kelebihan dari tanah ini yaitu: struktur tanah bagus, drainase bagus, sifat fisik yang baik serta dapat ditanami segala tanaman. Namun kekurangan dari tanah ini yaitu sifat kimia tanah yang kurang baik. Warna tanah yang semakin merah menandakan bahwa tanah tersebut semakin tua, hal ini disebabkan oleh besi yang teroksidasi. Selanjutnya mahasiwa mengambil sampel tanah tersebut untuk dilakukan analisa.

Dr. Ir. Afandi, M.P dan Ir. Didin Wiharso, M.S menyampaikan materi berkaitan dengan keadaan batuan basalt di Sukadana

 

Pengambilan sampel tanah oleh mahasiswa

 

 

 

 

 

 

Setelah mengunjungi lokasi basalt Sukadana, kemudian dilanjutkan perjalanan menuju Tanjung sari. Dr. Ir. Afandi, M.P dan Ir. Didin Wiharso, M.S menyampaikan bahwa daerah Tanjung Sari merupakan daerah tertua di Sumatera. Tanah daerah Tanjung Sari terbentuk dari batuan metamorf. Komposisi utama tanah tersebut yaitu schist dan quartzite. Tanah ini memiliki kandungan Fe tidak setinggi di daerah tanah Basalt Sukadana. Selanjutnya, mahasiswa kemudian mengambil tanah tersebut untuk dilakukan analisa kandungannya kemudian menuju bus untuk kembali melanjutkan perjalanan.

Dr. Ir. Afandi, M.P dan Ir. Didin Wiharso, M.S menyampaikan materi daerah Tanjung Sari

Kegiatan sesi II dilanjut pada tanggal 23 Januari 2019 menuju lahan sawah Pringsewu. Pada lokasi tersebut, Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M.Sc. menjelaskan bahwa tahun 1920an, Belanda memindahkan orang Jawa (Kebumen) ke Bagelen, Tataan. Daerah tersebut dipilih karena keadaan lahan yang rata dan perairan yang bagus yang sangat penting dalam penanaman. Awal mulanya lahan di daerah tersebut merupakan lahan kering yang bersifat aerobik dan memiliki kandungan oksigen yang tinggi. Namun setelah dilakukan penggenangan mengakibatkan keadaan tanah tersebut kurang oksigen. Lahan sawah memiliki lapisan tapak bajak yang terbentuk karena sering dilakukan pengolahan lahan (dibajak) dan menimbulkan penumpukan liat di subsoil yang menyebankan air tidak mudah meresap dalam tanah. Lahan sawah yang dibajak memerlukan air sebesar 30-40%, dengan irigasi yang efisien  5 cm. Daerah sub DAS Way Buluk merupakan lahan sawah nomer 1. Pola tanam yang baik adalah padi – padi – palawija, hal ini agar hama terkendali. Selain itu dilakukan rotasi tanam dapat mengurangi emisi Metan (CH4) di atmosfer. Manajemen persawahan harus memperhatikan keadaan landscape dan manajemen lanscape. Alih fungsi lahan (lahan primer menjadi lahan pemungkiman) menjadi salah satu masalah di Indonesia. Salah satu masalah yaitu saat musim penghujan akan kebanjiran dan mengakibatkan gagal panen. Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M.Sc menjelaskan, bahwa tanah di lahan sawah Pringsewu bewarna abu-abu dan lapisan bawahnya bewarna kebiruan hal ini menandakan adanya reduksi tanah yang baik.

Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M.Sc menyampaikan materi di lahan sawah Pringsewu

Selanjutnya para peserta melanjutkan perjalanan menuju lahan pertanian Gisting, Tanggamus. Pada lokasi ini Dr. Ir. Afandi, M.P., Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M.Sc. dan Prof. Dr. Ir. Jamalam Lumbanraja, M.Sc. memberikan materi berkaitan dengan keadaan tanah di lahan pertanian Gisting, Tanggamus. Beliau menyampaikan bahwa keadaan tanah di Gisting, Tanggamus merupakan ordo tanah andosol yang berasal dari abu vulkanik. Tanah andosol di daerah tersebut berwarna coklat, hal ini karena dipengaruhi oleh suhu agak rendah (subtropika) dan laju dekomposisi bahan organik yang lambat. Klasifikasi tanah andosol adalah memiliki sifat andic, yang berasal dari bahan vulkan yang belum terkristalin (amorf). Tanah jenis andosol memiliki sifat poros dan air mudah masuk, sehingga meminimalisir terjadinya erosi. Ketinggian daerah Gisting sebesar 543 mdpl, daerah ini merupakan hulu dari sungai Sekampung. Lahan pertanian Gisting di dominasi oleh komoditas pertanian lahan kering dan hortikultura, hal ini karena tanah daerah ini memiliki struktur tanah yang gembur dan subur. Oleh karena itu perlu di lestarikan atau dijaga keadaan tanahnya dengan teknik konservasi salah satunya dengan pembuatan teras yang sesuai. Salah satu landuse di daerah Gisting yaitu terdapat sistem pertanian agroforestri. Hasil pertanian agroforestri antara lain kakao, pada dan kopi

 

 

 

Dr. Ir. Afandi, M.P., Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M.Sc. dan Prof. Dr. Ir. Jamalam Lumbanraja, M.Sc. memberikan materi berkaitan dengan keadaan tanah di lahan pertanian Gisting, Tanggamus.

Setelah mengunjungi daerah lahan pertanian Gisting Tanggamus, para peserta melanjutkan perjalanan menuju Muara Indah, pantai Kota Agung. Dr. Ir. Afandi, M.P. dan Prof. Dr. Ir. Jamalam Lumbanraja, M.Sc menjelaskan bahwa, daerah ini memiliki ciri khas yaitu memiliki batuan yang berbentuk bulat. Hal ini karena terjadinya Rolling stone dari atas. Rolling stone merupakan batuan yang berasal dari atas yang tergerus sehingga berbentuk bulat. Daerah ini juga memiliki basir yang berwarna hitam yang berasal dari letusan gunung berapi. Namun daerah tersebut memiliki pasir berwarna putih yang mengandung silica oksida. Batuan yang berwarna hitam mengandung andesit.

Dr. Ir. Afandi, M.P. menyampaikan materi di Muara Indah, pantai Kota Agung

Mahasiswa antusias mendengarkan dosen menyampaikan materi

 

 

 

 

 

 

 

Pada hari ketiga pada tanggal 24 Januari 2019, kegiatan P3 dilanjutkan perjalanan menuju PTPN VII Bekri. Para peserta disambut hangat oleh Perwakilan PTPN VII Bekri yaitu Bapak Suratno. Beliau menyampaikan bahwa PTPN VII Bekri merupakan badan usaha miliki negara yang pertama kali dibuka oleh belanda dengan nama Landbow Maatschappy Bekri Gevestigde. PTPN VII Bekri ini memiliki komoditas tanaman kelapa sawit, tebu dan karet. Tanaman tebu ditanam dengan maksut untuk memutus siklus jamur Danoherma yang saat ini pihak PTPN VII belum mempunyai cara untuk mengatasinya. Oleh karena itu dilakukan penanaman tanaman tebu untuk pencegahan. PTPN VII bekri memiliki limbah salah satunya tandan kosong (tankos) kelapa sawit. Semakin meningkatnya tankos di lokasi tersebut, hal ini membuat PTPN VII digunakan sebagai kompos. Kompos tankos selanjutnya dapat diaplikasikan di lahan. Kebutuhan tankos sebesar 40 ton/kebun atau 1 pohon memerlukan 300kg kompos tankos. Keuntungan tankos diaplikasikan ke lahan salah satunya dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah serta dapat memperbaiki tekstur tanah. Bapak Suratno menjelaskan bahwa, perawatan TBM (tanaman belum menghasilkan) kelapa sawit adalah penyiangan, pemupukan, pemeliharaan jalan, jembatan, teras, korak, memperbaiki saluran air, pendataan pohon kelapa sawit, menyulam, kastrasi, tunas pasir, pembuatan TPH (tempat pengumpulan hasil) serta pembuatan jalan kontrol. Beliau menegaskan bahwa perawatan terpenting pada TBM yaitu proses kastrasi. Proses kastrasi merupakan pemangkasan bunga jantan dan betina saat sedang menjadi tunas, hal ini bertujuan agar tidak menyerap nutrisi lebih dari pohon. Salah satu penyakit yang menyerang pangkal batang adalah Ganoderma boninese pat yang ditularkan melalui tanah. Sistem pemanenan kelapa sawit yang dilakukan di PTPN VII Bekri yaitu menggunakan sistem “hanca giring (pemanenan secara bersama dari blok 1 ke blok yang lain)” dan sistem “hanca tetap (pemanenan secara tetap). Jarak tanam yang digunakan sebesar 9 x 9 x 9 m atau membentu pola segitiga sama sisi. Setiap pohon minimal harus memiliki 48 pelepah, jika pelepah kurang dari 48 maka disebut jengki. Satu bulan tanaman kelapa sawit tumbuh 2 pelepah, yang selanjutnya pelepah tersebut menghasilkan satu bunga. Pertumbuhan bunga dipengaruhi oleh iklim, hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan produksi. Suhu extrim dapat mengakibatkan abortus (pengguguran bunga). Jenis kelapa sawit yang ditanam di PTPN VII Bekri adalah jenis kelapa sawit DxP (dura dan pisifera). Ciri-ciri jenis kelapa sawit ini memiliki dagung buah yang tebal, inti buah yang kecil serta memiliki cangkang buah yang tipis dan renyah. Pelepah kelapa sawit terdapat 8 jalur atau spiral. Pelepah yang ke- 17 merupakan pelepah dewasa yang biasa digunakan untuk LSU (Life Sampel Unit). Ketika pohon kelapa sawit kekurangan air maka secara berturut-turut pelepah, buah dan bunga akan kering. Bapak Suratno menambahkan bawa bunga kelapa sawit yang berumur 1 bulan merupakan resektif (siap diserbuk dan dikawinkan) sedangkan nekos merupakan bunga yang tidak perlu dikawinkan. Umur nekos ke siap panen membutuhkan waktu 6-7 bulan. Ciri-ciri buah yang siap panen dan selesai pembentukan minyak adalah memiliki warna yang berubah dan mudah lepas dari janjangan.

Bapak Suratno (Perwakilan karyawan PTPN VII Bekri) menyambut dan menyampaikan materi tentang budidaya kelapa sawit di PTPN VII Bekri

 

Sekian kegiatan P3 Fakultas Pertanian Jurusan Ilmu Tanah Angkatan Tahun 2018

 

Viva Soil

Soil Solid

Design Downloaded from free wordpress themes | free website templates | Free Web Icons.