Category Archives: Home

Pelantikan pengurus HITI Komda Lampung dan LKMMN FOKSUHIMITI

Pengurus HITI KOMDA LAMPUNG

HITI dan Fokushimiti– Bertempat di Aula Fakultas Pertanian Universitas Lampung, pelantikan HITI Komda Lampung (Himpunan Ilmu Tanah Indonesia, Komisariat Daerah Lampung) telah sukses diselenggrakan pada tanggal 3 September 2018. Kegiatan tersebut dilaksanakan bersamaan dengan LKMMN FOKUSHIMITI (Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa Nasional, Forum Komunikasi Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah Indonesia) yang digelar dari tanggal 3 sampai 5 September 2018.

Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Himpunan Ilmu Tanah Indonesia Prof. Dr. Ir Budi Mulyanto, MSc (IPB); Dr Bambang Sudarmanto, SPt, MSi (Puslitbang Pendidikan, Kementerian Pertanian); Prof. Dr Ir Irwan Sukri Banuwa, MSi (Dekan Fakultas Pertanian) Anggota HITI Komda Lampung, Delegasi FOKUSHIMITI se-Indonesia, dan mahasiswa Ilmu Tanah, Universitas Lampung. Delegasi FOKUSHIMITI yang hadir di antaranya: IPB, UNPAD, UNAND, UNS, UHO, UNIB, UNRAM, UNSRI, dan UNILA.

Sambutan dan Pembukaan oleh Dekan Fakultas Pertanian UNILA; Prof. Dr Ir. Irwan Sukri Banuwa, MS

Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Pertanian UNILA dan Ketua HITI Indonesia. Pelantikan anggota HITI Komda Lampung dilakukan oleh Ketua HITI Indonesia. Berdasarkan SK Ketua Umum HITI No.06/Kep.HITI/09/2018 tentang “Pengangkatan Pengurus Himpunan Ilmu tanah Indonesia (HITI) Komisariat Daerah Lampung Periode 2018-2022”, menetapkan ketua HITI Komda Lampung adalah Prof. Dr Ir Dermiyati, MSc.Agr dengan total anggota pengurus HITI berjumlah 62 orang.

Setelah pelantikan dilaksanakan, acara dilanjutkan dengan kuliah umum nasional yang bertema “Penanggulangan Degradasi dan Alih Fungsi Lahan Guna Meningkatkan Kedaulatan Pangan Nasional”. Pada Kuliah Umum tersebut, penanggulangan degradasi lahan dibahas dengan berbagai pendekatan oleh pakar Ilmu Tanah dan oleh Kementerian Pertanian, yaitu:

  1. Dr Ir. Budi Mulyanto, MSc (Ketua Umum HITI – Guru Besar Ilmu Tanah IPB);
  2. Dr Ir. Muhajir Utomo, MSc (Guru Besar Ilmu Tanah UNILA); dan
  3. Dr Bambang Sudarmanto, SPt, MSi (Kepala Pusat Pendidikan, Kementerian Pertanian).

Prof. Dr Ir. Muhajir Utomo, MSc

Prof. Dr Ir. Budi Mulyanto, MSc

 

 

 

 

 

 

 

 

Dr. Bambang Sudarmanto, SPt, MSi

 

 

 

 

 

 

 

Setelah Kuliah umum, dilanjutkan dengan kegiatan LKMMN FOKUSHIMITI untuk mahasiswa Ilmu Tanah se-Indonesia selama 3 hari. Kegiatan LKMMN ini menghadirkan narasumber untuk memberikan motivasi dan latihan kepemimpinan bagi mahasiswa Ilmu Tanah se-Indonesia.

  1. Ilham Mendrofa, S.P., M.M. (Ketua BPW PISPI Lampung).
  2. Kolonel KAV. Erwin Djatniko, S.Sos. (Danrem 043/Gatam).
  3. Graha Abadi Pasyaman (Sekjend ISMPI 16-18).
  4. Haekal Hamdany (Sekjend FOKUSHIMITI).

Harapannya dapat menghasilkan generasi-generasi Ilmu Tanah yang siap menjadi pemimpin dalam mengelola sumberdaya lahan yang arif dan bijaksana sesuai bidang keahliannya untuk mencapai Indonesia emas 2045 di masa mendatang.

Ucapan terimakasih banyak disampaikan kepada Ketua Jurusan Ilmu Tanah, Pembina GAMATALA UNILA; dan seluruh staf dosen jurusan Ilmu tanah; serta yang kami banggakan segenap anak didik kami panitia penyelenggara dari Gamatala (Gabungan Mahasiswa Ilmu Tanah Unila) yang telah bekerja keras untuk mensukseskan terselenggaranya kegiatan HITI dan LKMMN FOKUSHIMITI.

Kolonel KAV. Erwin Djatniko, S.Sos. (Danrem 043/Gatam)

Delegasi FOKUSHIMITI

 

 

 

 

 

 

Penyerahan SK Oleh KETUM HITI Pusat ke Ketua HITI Komda Lampung (Prof. Dr Ir. Dermiyati, MSc

 

 

 

 

 

 

 

Tari Sigeh Pengunten oleh Mahasiswa Ilmu Tanah UNILA

 

Viva-Soil

Soil-Solid

 

 

PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru, Jurusan Ilmu Tanah, Angkatan 2018

Ketua Jurusan Ilmu Tanah, Prof. Dr Ir. Ainin Niswati, MS, MAgr.Sc

Jum’at, 17 Agustus 2018- Tibalah masanya program Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) berlangsung di tingkat jurusan masing-masing di lingkungan Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, termasuk di Jurusan Ilmu Tanah. PKKMB ini merupakan serangkaian kegiatan yang diselenggarakan selama beberapa hari, mulai dari tingkat Universitas, Fakultas, dan berakhir di tingkat Jurusan.

PKKMB tahun 2018 ini semakin meriah karena bertepatan dengan HUT-RI ke 73. Tahun ini merupakan angkatan ketiga Jurusan Ilmu menerima mahasiswa baru setelah lahirnya kembali Jurusan Ilmu tanah pada tahun 2016. Sebagaimana telah diketahui, sejak tahun 2007 sampai 2015, Jurusan Ilmu Tanah, Agronomi dan Hortikultura, dan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan dilebur menjadi menjadi satu dengan nama jurusan Agroteknologi. Pada tahun 2018 ini, mahasiswa Ilmu Tanah diterima sebanyak 46 orang.

Serangkaian program PKKMB di tingkat jurusan ini diperkenalkan kepada mahasiswa baru tentang Jurusan Ilmu Tanah; Cakrawala Bidang Ilmu Tanah dan Prospek Dunia Kerja; Pengenalan Dosen Pembimbing akademik; Peraturan Akademik;  Kalender Akademik, Sistem SKS, KRS, dan PA; Teknik Belajar di Perguruan Tinggi; dan Pengenalan Fasilitas Jurusan Ilmu Tanah.

Kita berharap mahasiswa baru Ilmu Tanah dapat beradaptasi dengan sistem pendidikan di Perguruan Tinggi, berprestasi dibidang akademik, dan aktif dalam organisasi di lingkungan Fakultas maupun di tingkat Universitas.

 

Viva Soil

Soil Solid

Dr Ir. Tamaluddin Syam, MS sedang memberikan arahan dan motivasi mengenai kepada mahasiswa baru

Prof. Dr Ir. Jamalam Lumbanraja sedang memberikan pengetahuan kepada mahasisswa tentang Cakrawala Bidang Ilmu Tanah dan Prospek Dunia Kerja

Ir. Sarno, MS sedang memperkenalkan Laboratorium Ilmu Tanah kepada Mahasiswa Baru Ilmu Tanah

Pengenalan Laboratorium Evaluasi Lahan dan Lingkungan oleh Kepala Laboratorium Dr Ir Tamaluddin Syam, MS

Pengenalan Ruang Instrument Ilmu Tanah ke Mahasiswa Baru

Mahasiswa baru aktif berdiskusi selama PKKMB

Faperta Berkarya- Pertanian, Pemanasan Global, dan Mitigasi Gas Rumah Kaca

Tiga Pakar Ilmu Tanah sedang Talkshow dalam program Faperta Berkarya ditayangkan secara Live di Radar TV

Kamis, 6 Agustus 2018, tiga pakar Ilmu Tanah kembali hadir dalam program Faperta Berkarya di salah satu stasiun TV lokal. Beliau adalah Prof. Dr Ir. Muhajir Utomo, MSc; Prof. Dr Ir. Jamalam Lumnaraja, MSc; dan Dr Ir. Hendri Buchari, MS. Pada acara tersebut diangkat topik Pertanian, Pemanasan Global dan Mitigasi Gas Rumah Kaca.Dalam talkshow tersebut dijelaskan bahwa pemanasan global yang kini sedang terjadi adalah akibat  dari makin meningkatnya emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfir, baik yang berasal dari ekosistem alami maupun ekosistem buatan termasuk sektor pertanian. Gas rumah kaca dominan di atmosfir adalah karbon dioksida (CO2), metan (CH4) dan  nitrous oksida (N2O). Potensi kekuatan dalam pemanasan global,  CH4  21 kali dan N2O 290 kali lebih besar dari CO2.

Sektor pertanian merupakan sektor yang paling banyak terkena dampak pemanasan global. Terjadinya banjir dan longsor di berbagai daerah pada musim hujan, dan kekeringan berkepanjangan pada musim kemarau merupakan bukti dampak pemanasan global.  Selain itu, musim pun sudah makin tidak menentu, sehingga mempersulit petani dalam menentukan waktu tanam. Perubahan iklim global tersebut akhirnya akan berdampak terhadap ketahanan pangan nasional. Ironisnya, sebagai sektor yang paling banyak terkena dampak pemanasan global, pertanian juga merupakan penyumbang gas rumah kaca (GRK) global. Sektor pertanian menyumbang emisi GRK anthropogenik dalam pemanasan global sebesar 20%, dan sebesar 90% berasal dari pertanian daerah tropik. Indonesia sendiri sebagai negara berkembang di daerah tropik sudah menjadi salah satu pemasok GRK terbesar di dunia setelah Amerika dan Cina.

Besarnya kehilangan gas CO2 dari sektor pertanian disebabkan oleh cara praktik budidaya pertanian yang tidak berkelanjutan. Contoh budidaya pertanian yang memacu emisi GRK adalah pembakaran lahan dan pembajakan tanah. Pembakaran lahan bukan hanya menghasilkan GRK, tetapi juga merusak tanah. Pembajakan lahan disamping merusak agregasi tanah sehingga partikel-partikel tanah menjadi lepas dan karbon tanah hilang terbawa erosi, juga memacu oksidasi bahan organik tanah yang berakibat pada meningkatnya emisi gas CO2 dan menurunnya cadangan karbon tanah.

Sumber emisi GRK dari sektor pertanian dalam arti luas adalah dari lahan gambut, lahan sawah dan lahan kering. Emisi CO2 dari lahan gambut sebagian besar karena pembakaran lahan dan sistem drainasi yang berkelebihan. Sementara emisi GRK di lahan sawah karena emisi CH4 akibat sistem drainase yang buruk, sedangkan emisi GRK di lahan kering sebagian besar karena emisi gas CO2 akibat sistem olah tanah konvensional dan pembakaran lahan.

Oleh karena itu, diperlukan adanya mitigasi GRK melalui manajemen lahan berkelanjutan yang bukan hanya mampu meningkatkan penyerapan karbon, tetapi juga dapat mengurangi emisi gas CO2  dari sektor pertanian. Strategi peningkatan karbon dalam tanah bukan hanya akan membantu pengurangan emisi GRK, tetapi juga meningkatkan kesuburan tanah. Melalui penerapan  pengelolaan lahan berkelanjutan, peningkatan C dalam tanah sebesar 4/1000 per tahun (“4 per mille Soils for Food Security and Climate”) sebagai kebijakan global dapat dipenuhi.

Teknik-teknik budidaya pertanian yang mampu mengurangi emisi  CO2 dan sekaligus meningkatkan karbon dalam tanah serta kesuburan tanahnya antara lain teknik konservasi tanah, penanaman tanaman pelindung, diversifikasi tanaman, pertanian organik, dan agroforestri (wanatani).

Prof. Dr Ir. Muhajir Utomo, MSc

Prof. Dr Ir. Jamalam Lumbanraja, MSc

 

Dr Ir. Hendri Bucharie, MS

Ekspedisi Krakatau- Jurusan Ilmu Tanah

Sabtu-Minggu, 7-8 Juli 2018 mahasiswa Jurusan Ilmu Tanah melakukan Ekspedisi Krakatau. Ekspedisi Krakatau ini merupakan bagian dari praktikum mata kuliah Geologi dan Mineralogi Tanah mahasiswa Angkatan 2017. Field trip ini didampingi oleh Penanggung Jawab Mata kuliah Prof. Dr.Ir. Jamalam Lumbanraja, MSc dan anggota Dr.Ir. Supriatin, MSc, kemudian Zuldadan Naspendra, SP MSi dan Septi Nuraini, SP, MSi, serta sekretaris Jurusan Ilmu Tanah Nur Afni Afrianti, SP, MSc. Fieldtrip ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa yang didapat selama perkuliahan dan mengaplikasikan teori tersebut di lapangan, dengan mengidentifikasi jenis batuan pada landform vulkanik gunung krakatau, perkembangan profil tanah dan vegetasi pada wilayah gunung api berdasarkan toposequence. Selain bagian dari edukasi, ekspedisi krakatau ini menjadi bagian darmawisata di akhir perkuliahan semester genap.

Tim ekspedisi sedang persiapan keberangkatan menuju Krakatau

Dosen pendamping Ekspedisi Krakatau. Gambar dari kiri ke kanan (Septi Nurul Aini, SP MSi; Dr Supriatin, SP MSc; Zuldadan Naspendra, SP MSi; Prof. Dr Ir Jamalam Lumbanraja, MSc; Nur Afni Afrianti, SP MSc

Sarapan pagi di kaki Gunung Anak Krakatau

Stratifikasi tephra di lereng tengah anak Gunung Krakatau (ketinggian lokasi ini sekiitar 70 mdpl)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perjalanan dimulai dari Gedung A (Dekanat, Fakultas Pertanian) menuju Dermaga Canti, Lampung Selatan. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan kapal motor ke Pulau Sebesi. Pulau tersebut merupakan tempat menginap tim. Disekitar pulau tersebut terdapat gugus pulau kecil tempat wisata sekaligus pengamatan batuan dan identifiaksi formasi pembentukan pulau. Ke esokan harinya, perjalanan dilanjutkan ke Gunung Anak Krakatau. Pengamatan tanah dan identifikasi batuan dilakukan secara toposequence dengan 7 jumlah titik pengamatan.

Catatan sejarah menunjukkan pembentukan komplek Gunung Krakatau pada masa prasejarah diawali dengan adanya sebuah gunung api besar yang disebut Krakatau Besar dengan bentuk kerucut. Pada ratusan ribu tahun yang lalu terjadi letusan dahsyat yang menghancurkan dan menenggelamkan lebih dari 2/3 bagian Krakatau. Akibat letusan tersebut menyisakan 3 pulau kecil, yaitu Pulau Rakata, Panjang dan Sertung. Pertumbuhan lava yang terjadi di dalam kaldera Rakata membentuk dua pulau vulkanik baru, yaitu Danan dan Perbuatan.

Pada tanggal 27 Agustus 1883 terjadi letusan besar dan menghancurkan sekitar 60% tubuh Krakatau di bagian tengah sehingga membentuk lubang kaldera dengan diameter ± 7 km dan menyisakan 3 pulau kecil, yaitu pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang.

Kegiatan vulkanik di bawah permukaan laut terus berlangsung dan periode 1927-1929 muncul sebuah dinding kawah ke permukaan laut sebagai hasil erupsi. Pertumbuhan ini terus berlangsung membentuk pulau yang disebut Anak Krakatau (Sumber: Balai Konservasi Sumberdaya Alam Lampung).

Hasil pengamatan terakhir pada tanggal 7 Juli 2018 oleh tim Ekspedisi Ilmu Tanah Unila menunjukkan bahwa saat ini ketinggian Anak Gunung Api Krakatau mencapai 180 mdpl. Hal ini meunjukkan pertumbuhan rata-rata anak Gunung Api Krakatau sejak muncul pada tahun 1927 sampai 7 Juli 2018 mencapai 1.97 meter/tahun.

Anak Gunung Krakatau sedang erupsi mengeluarkan material piroklastik

Anak Gunung Kraktau sedang erupsi kecil. Gambar diambil pada ketinggian sekitar 50 mpdl

Selamat menikmati masa purnabakti bapak Prof. Dr. Ir. Ali Kabul Mahi, MS dan Prof. Dr. Ir. KES Manik, MS- “Terimakasih Bakti dan Dedikasimu, Jasa-jasamu akan selalu dikenang”

Bandar Lampung, Rabu 27 Juni 2018, keluarga besar jurusan Ilmu Tanah mengadakan acara Purnabakti Prof. Dr. Ir. Ali Kabul Mahi, MS dan Prof. Dr. Ir. KES Manik, MS. Acara yang diadakan di Rumah Makan Kayu, Way Halim tersebut hadiri oleh segenap staf pendidik dan kependidikan Jurusan Ilmu Tanah, Universitas Lampung. Acara berlangsung hangat dengan penuh keakraban. Acara diawali dengan pembukaan dan sambutan oleh Prof. Dr. Ir. Ainin Niswati, MS. Magr.Sc selaku ketua Jurusan Ilmu Tanah, kemudian sambutan disampaikan oleh Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr Ir. Irwan Sukri Banuwa, MS yang juga berasal dari Jurusan Ilmu Tanah. Ucapan terimakasih banyak disampaikan kepada beliau atas dedikasi yang telah setia mengabdi, membangun dan mengembangkan Jurusan Ilmu Tanah hingga 42 tahun lamanya. Prof. Ainin menyampaikan kiprah, karya dan dedikasi beliau patut menjadi teladan bagi kita semua di mana Prof. Dr Ir. Ali Kabul Mahi, MS telah banyak menghasilkan publikasi ilmiah dan karya berupa buku hingga tidak terhitung lagi jumlahnya, sedangkan Prof. Dr Ir KES Manik, MS selain menghasilkan publikasi dan karya buku, beliau juga dikenal rapi dengan dalam mengarsipkan dokumen-dokumen.

Prof. Dr Ir. Ali Kabul, MS

Prof. Dr Ir.KES Manik, MS dan istri

Dekan FP UNILA Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, MS

Ketua Jurusan Ilmu Tanah Prof. Dr Ir. AInin Niswati MS, MAgr.SC

Sebelum penutupan dengan acara makam malam, Jurusan Ilmu Tanah memberikan cinderamata sebagai kenang-kenangan dari segenap staf pendidik dan kependidikan. Selamat menikmati masa purna bakti dalam suasana lahir dan batin yang sehat, tentram, damai beserta istri, anak-anak dan cucu serta handai tolan lainnya, semoga Allah SWT memberkahi Bapak diberi kesehatan, kejernihan pikiran yang bertambah dan kearifan yang makin sempurna.

 

Penyerahan cinderamata oleh Dekan FP

Penyerahan cinderamata oleh Dekan FP

 

Kalau menanam si limau manis, jangan ditanam dekat buah jarak;

Ingin rasanya kami menangis, karena berpisah denganmu bapak;

Kalau matoa berbuah sudah, jangan ditebang atau rubuhkan;

Kalau ada luput dan salah, kami sekeluarga mohon maafkan;

Kalau ada sumur di ladang, jangan biarkan kering kerontang;

Kalau ada waktu yang lapang, ke manapun kami datang bertandang.

 

Acara ditutup dengan do’a oleh Ir Hery Novriansyah, MS, diakhiri dengan makan malam dan salam-salaman.

Maju Ilmu Tanah kita, Viva Soil, Soil Solid

Foto bersama keluarga besar Jurusan Ilmu Tanah, FP UNILA

Design Downloaded from free wordpress themes | free website templates | Free Web Icons.